Pariwisata



Gunung Bintan

Lokasi :

Kampung Bekapur, Desa Bintan Buyu, Kecamatan Teluk Bintan, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, Indonesia



Provinsi Kepulauan Riau yang pernah kesohor dengan sebutan Bumi segantang lada karena geografis wilayahnya yang terdiri dari  begitu banyak pulau besar kecil baik yang telah memiliki nama maupun tidak, yang dilukiskan dengan lada2 yang ditumpahkan dari sebuah ganyang. 

Selama  ini lebih terkenal karena  sektor industri dan perdagangan mengingat letaknya yang sangat strategis di perairan laut China Selatan dan berbatasan langsung dengan negara tetangga Singapura, Malaysia serta Vietnam ini, ternyata banyak sekali menyimpan kekayaan Potensi pariwisata alam  baik pegunungan maupun pantai.

Wisata  bahari memang merupakan objek wisata yang paling banyak bisa ditemui di Provinsi ini, tidak terkecuali di Pulau Bintan sebagai pulau pusat  pemerintahan dan administrasi Provinsi Kepulauan Riau dengan Kota Tanjung Pinang sebagai ibu kotanya.

Pulau ini memiliki berbagai keunikan wisata yang bisa dikatakan sangat Komplit diantara wisata-wisata di pulau lainnya di Kepri. Salah satunya adalah  Gunung Bintan.

Gunung Bintan merupakan gunung dengan rangkaian pegunungan  yang eksotis dengan  Air Terjun yang letaknya tepat di kawasan kaki Gunung Bintan yang memiliki ketinggian sekitar 300 M.

Keindahan alam yang asri serta  nilai historis dari gunung Bintan dalam perkembangan kerajan Melayu Bintan, menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan untuk mengunjungi gunung ini.

Selain itu, kawasan sekitar kaki gunung yang  banyak ditumbuhi pohon durian,duku dan manggis juga menjadi nilai tambah untuk berkunjung ke Gunung ini. 

Gunung Bintan ini terletak di Kampung Bekapur, Desa Bintan Buyu, Kecamatan Teluk Bintan, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, Indonesia.

sumber : http://www.rri.co.id/post/berita/82060/budaya/air_terjun_gunung_bintan_lokasi_wisata_di_pulau_bintan.html

Mangrove Sei Carang

Lokasi :

Senggarang, Tanjung Pinang



Mangrove Sei Carang merupakan salah satu kawasan wisata berupa hutan bakau yang menjadi kebanggaan masyarakat kota Tanjung Pinang. Kawasan wisata yang diresmikan pada tahun 2010 ini berada di tepi Sungai Sei Carang, tak jauh dari Jembatan Gugus. Terdapat sekitar 3.000 jenis tanaman bakau yang tumbuh di kawasan ini. Berada di kawasan ini kita bisa melihat berbagai jenis tanaman bakau melalui jembatan yang telah disediakan. Selain itu, di kawasan hutan bakau ini juga dihuni oleh monyet-monyet yang tentunya juga bisa kita lihat. Monyet-monyet tersebut biasanya bergelantungan di antara rerimbunan pohon bakau.

Wisata hutan mangrove merupakan salah satu wisata yang cukup menarik untuk dikunjungi. Apalagi di kawasan wisata ini juga bisa menjadi spot yang menarik untuk menyalurkan bakat fotografimu. Namun saat melintasi jembatan di kawasan wisata ini diharapkan untuk berhati-hati karena ada beberapa bagian jembatan yang berlubang.

Untuk dapat menikmati keindahan hutan Magrove ini, para pengunjung tidak dikenakan biaya masuk. Namun, para pengunjung hanya membayar tarif parkir saja sebesar Rp 2.000,-

sumber : http://www.utiket.com/id/obyek-wisata/tanjung_pinang/339-mangrove_sei_carang.html

Pantai Lagoi - Nirwana Garden Resort

Lokasi : Jalan Panglima Pantar, Lagoi 29155, Bintan Resorts Pulau Bintan Indonesia

Nirwana Resort Hotel memiliki 245 kamar tamu termasuk 31 suite, semua dengan pemandangan laut, kolam renang atau taman. Fasilitas modern dan fasilitas yang lengkap tersedia untuk tamu, dan ensemble kami restoran dan bar akan memuaskan selera yang paling cerdas. Dengan serangkaian penuh dan komprehensif kegiatan berbaris untuk tamu, kepentingan dan kegiatan yang beragam disesuaikan dengan fasilitas dan kualitas layanan. Perpaduan unik kami semangat Mediterania cerah dan hangat keramahtamahan Indonesia akan membuat Anda merasa lebih dari menyambut di sini. Bahkan, dengan sesuatu yang dilakukan untuk semua orang dalam keluarga, yakinlah memiliki waktu yang tepat, cerah, dan ceria di surga ini!

Sumber : http://www.nirwanagardens.com/hotel/nirwana-resort-hotel/

Pantai Trikora

Lokasi :

Desa Malang Rapat, Kecamatan Gunung Kijang, Pulau Bintan



Pantai Trikora, salah satu tujuan wisata yang sayang jika dilewatkan kala Anda berkunjung ke Pulau Bintan. Bagimana tidak, pesona alam yang alami dengan pasir putih dan ombak yang landai, memberikan sensasi tersendiri saat liburan bersama keluarga dan kerabat. Pantai ini menjadi salah satu pantai terindah yang banyak dikunjungi wisatawan di Pulau Sumatra.

Pantai Trikora terletak di Desa Malang Rapat, Kecamatan Gunung Kijang, Pulau Bintan. Jika Anda memulai perjalanan dari Tanjung Pinang maka harus bergerak ke arah timur sekitar 45 km. Pantai ini memiliki empat bagian, yakni Trikora 1, 2, 3 dan 4.

Menurut cerita masyarakat sekitar, nama Trikora berasal dari nama “three corral”, yang diberikan oleh wisatawan asing yang kala itu berkunjung ke pantai ini. Namun versi lain mengaitkan bahwa Trikora berhubungan dengan Tri Komando Rakyat. Dimana pada saat pemerintahan Presiden Soekarno, tengah hangat beredar isu tentang “Ganyang Malaysia”, dan pantai ini merupakan basis pertahanan wilayah terluar Indonesia pada masa itu.

Berkunjung ke sana, Anda harus mempersiapkan kendaraan sendiri. Pasalnya akses untuk menuju Pantai Trikora belum dilengkapi dengan transportasi umum. Sepanjang perjalanan menuju Trikora, Anda akan disuguhkan dengan pemandangan yang indah. Seperti perkampungan nelayan yang berjejer rapi, kawasan konservasi lamun dan mangrove, serta resort-resort mewah yang siap menemani istirahat Anda. Tidak perlu takut dengan kondisi jalan, pasalnya jalan di sana beraspal bagus dan lebar.

 

Sumber : http://www.gosumatra.com

Pulau Nikoi

Lokasi : Pulau Nikoi, Kabupaten Bintan Kep. Riau, Indonesia

ulau Nikoi termasuk dalam rangkaian Kepulauan Provinsi Riau. Berjarak 8 km dari pantai timur Pulau Bintan. Pulau ini memiliki luas sekitar 16,9 hektar dan terdapat 15 rumah pondok dari alang-alang dengan menghadap ke arah pantai, sehingga anda bebas menikmati pemandangan pantai,  seperti memiliki pantai tersendiri. Pulau Nikoi termasuk dalam kategori top 10 pulau terindah di Asia, karena dengan keindahan alamnya dipertahankan kemurniannya, menyebabkan pulau Nikoi menjadi salah satu pulau favorit untuk dikunjungi  para wisatawan.

Pulau ini memiliki ketinggian maksimal tiga puluh meter, dan terdiri dari pantai berpasir putih dan bertatahkan batu-batu granit berwarna putih, dengan terumbu karang lepas pantai yang kaya akan keragaman flora dan fauna laut. Dua pertiga dari pulau ini berupa hutan Banyan, rumah bagi berbagai jenis burung. Penyu dan kura-kura juga sering bersarang di Pulau ini.

- sumber: http://www.btravindonesia.com/keindahan-pulau-nikoi-wisata-ibarat-memiliki-pulau-pribadi.html#sthash.egBIiz7b.dpuf

Pulau Penyengat

Lokasi :

2 km dari Kota Tanjungpinang



Pulau Penyengat atau Pulau Penyengat Inderasakti dalam sebutan sumber-sumber sejarah, adalah sebuah pulau kecil yang berjarak kurang lebih 2 km dari Kota Tanjungpinang, pusat pemerintahan Provinsi Kepulauan Riau. Pulau ini berukuran panjang 2.000 meter dan lebar 850 meter, berjarak lebih kurang 35 km dari Pulau Batam. Pulau ini dapat ditempuh dari Tanjungpinang dengan menggunakan perahu bermotor atau lebih dikenal pompong yang memerlukan waktu tempuh kurang lebih 15 menit.

Pulau Penyengat merupakan salah satu obyek wisata di Kepulauan Riau. Di pulau ini terdapat berbagai peninggalan bersejarah yang diantaranya adalah Masjid Raya Sultan Riau yang terbuat dari putih telur, makam-makam para raja, makam dari pahlawan nasional Raja Ali Haji, kompleks Istana Kantor dan benteng pertahanan di Bukit Kursi. Sejak tanggal 19 Oktober 1995, Pulau penyengat dan kompleks istana di Pulau Penyengat telah dicalonkan ke UNESCO untuk dijadikan salah satu Situs Warisan Dunia.

Menurut cerita, pulau mungil di muara Sungai RiauPulau Bintan ini sudah lama dikenal oleh para pelaut sejak berabad-abad yang lalu karena menjadi tempat persinggahan untuk mengambil air tawar yang cukup banyak tersedia di pulau ini. Belum terdapat catatan tertulis tentang asal mula nama pulau ini. Namun, dari cerita rakyat setempat, nama ini berasal dari nama hewan sebangsa serangga yang mempunyai sengat. Menurut cerita tersebut, ada para pelaut yang melanggar pantang-larang ketika mengambil air, maka mereka diserang oleh ratusan serangga berbisa. Binatang ini yang kemudian dipanggil Penyengat dan pulau tersebut dipanggil dengan Pulau Penyengat. Sementara orang-orang Belanda menyebut pulau tersebut dengan nama Pulau Mars.[3][1]

Tatkala pusat pemerintahan Kerajaan Riau bertempat di pulau itu ditambah menjadi Pulau Penyengat Inderasakti. Pada 1803, Pulau Penyengat telah dibangun dari sebuah pusat pertahanan menjadi negeri dan kemudian berkedudukan Yang Dipertuan Muda Kerajaan Riau-Lingga sementara Sultan berkediaman resmi di Daik-Lingga. Pada tahun1900Sultan Riau-Lingga pindah ke Pulau Penyengat. Sejak itu lengkaplah peran Pulau Penyengat sebagai pusat pemerintahan, adat istiadat, agama Islam dan kebudayaan Melayu.

Imperium Melayu

Pulau Penyengat merupakan pulau yang bersejarah dan memiliki kedudukan yang penting dalam peristiwan jatuh bangunnya Imperium Melayu, yang sebelum terdiri dari wilayah Kesultanan JohorPahangSiakdan Lingga, khususnya di bagian selatan dari Semenanjung Melayu. Peran penting tersebut berlangsung selama 120 tahun, sejak berdirinya Kerajaan Riau di tahun 1722, sampai akhirnya diambil alih sepenuhnya oleh Belanda pada 1911.

Perang Saudara tahta Johor

Awalnya pulau ini hanya sebuah tempat persinggahan armada-armada pelayaran yang melayari perairan Pulau BintanSelat Malaka dan sekitarnya. Namun pada tahun 1719 ketika meletus perang saudaramemperebutkan tahta Kesultanan Johor antara keturunan Sultan Mahmud Syah yang dipimpin putranya Raja Kecil melawan keturunan Sultan Abdul Jalil Riayatsyah yang dipimpin Tengku Sulaiman.

Pulau Penyengat mulai dijadikan kubu pertahanan oleh Raja Kecil yang memindahkan pusat pemerintahannya dari Kota Tinggi (Johor) ke Riau di Hulu Sungai Carang (Pulau Bintan). Perang saudara itu dimenangkan oleh Tengku Sulaiman dan saudaranya yang dibantu oleh lima orang bangsawan Bugis Luwu, yaitu Daeng Perani, Daeng MarewahDaeng Chelak, Daeng Kemasi dan Daeng Menambun. Yang mana seterusnya Tengku Sulaiman mendirikan kerajaan baru yaitu Kerajaan Johor-Riau-Lingga, pada 4 Oktober 1722.Sedangkan Raja Kecil menyingkir ke Siak dan seterusnya mendirikan Kesultanan Siak.

sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Pulau_Penyengat